Ustadz
Lutfie #OLID: Membangun Keluarga Surgawi
Part 2
Cinta
Memang Fitrah
Sebagaimana
definisi cinta yang telah kita bahas sebelumnya, cinta bisa dirasakan oleh
siapa saja.
Tua
muda, kaya miskin, konglomerat atau kolongmelarat, berpendidikan atau tidak,
semua orang punya kecenderungan kepada lawan jenis.
Cerita
cinta selalu ada sejak zaman Fathimah dan Ali, Romi dan Juli, atau bahkan
hingga Raffi dan Gigi. Cinta selalu mewarnai kisah perjalanan manusia.
Seakan
tak pernah habis cerita tentang cinta. Ada yang cinta segitiga atau segiempat.
Cinta bertepuk sebelah tangan, cinta antara dua sejoli yang selisih usia
terpaut puluhan tahun, cinta antara si kaya pada si miskin, cinta beda agama,
atau cerita si cantik pada si buruk rupa seperti kisah pada film animasi beauty
and the beast atau shrek.
Cerita
cinta yang kadang tak masuk akal itu akhirnya membuat kesimpulan cinta itu
buta. Jika diibaratkan penyakit, cinta bisa diidap oleh siapapun tak mengenal
usia, harta, kasta, tahta, atau agama.
Semua
orang punya cinta. Sebab manusia memang diciptakan oleh Allah dengan fitrah
untuk memiliki kecenderungan pada lawan jenis dan berkasih sayang.
“Dijadikan
indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis eras, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di
dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Surga)." (TQS. Ali-Imran:
14)
Nabi
Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Dijadikan aku menyukai
wanita dan wangi-wangian, dan dijadikan kesejukan mata hatiku di dalam shalat.”
(Diriwayatkan an-Nasa’i dan al-Hakim)
Anugrah
ini berpotensi untuk mencintai dan dicintai. Ini lumrah dan sangat wajar. Ini
pun manusiawi karena tanpa fitrah kasih sayang bagaimana manusia hendak
melestarikan jenisnya?
Cinta
memang fitrah, sudah satu paket dengan diciptakannya satu orang manusia. Jadi
tidak pernah salah orang jatuh cinta. Melainkan banyak orang tergelincir dalam
mengekspresikan cinta.
Cinta
yang terbalut syariat adalah fitrah yang begitu indah. Namun sebaliknya, jika
nuansanya adalah maksiat, fitrah itu berbalik menjadi fitnah.
Kurang
lebih inilah salah satu pandangan Islam terhadap cinta. Bahwa cinta itu fitrah,
cinta memang fitrah.
Berikutnya
bagaimana sikap benar kita seorang muslim terhadap cinta? Bagaimana pula
hubungannya cinta dengan membangun keluarga surgawi?
Akhukum
fillah,
al Faqir
Abu Sulthan
@lutfisarif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar