Pages

Kamis, 15 Oktober 2015

🍒Keluarga Bervisi Surga🍒


 Ketika seorang pemuda muslim memutuskan untuk menikah, maka dia harus siap untuk mengemban amanah yg lebih besar; memberikan nafkah lahir-batin kepada istri, dan mendidik anggota keluarganya, termasuk anak yg kelak lahir di kemudian hari.
Sungguh, ini semua membutuhkan perjuangan dan kesabaran yg berlipat-lipat.

Di antara faktor terpenting yg menjadikan seseorang memiliki kesabaran ekstra dalam menghadapi semua masalah dalam hidup berkeluarga adalah menjadikan keluarganya bervisi surga.
Keluarga yang bervisi surga seperti ini tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh ombak masalah yg setiap hari datang menghampiri.
Karena ia lalui itu semua dgn kesabaran, dan berdoa agar itu menjadi amal yg bisa meleburkan dosanya dan meninggikan derajatnya, di akhirat kelak.

Betapa penulis terharu ketika mendengar kisah yang dipaparkan oleh seorang ustadz dalam kajian bulanan di Sukoharjo pagi itu. Ustadz yg biasa menjadi konsultan keluarga itu bercerita :

Ketika itu ada seorang suami yg datang menghampiri si ustadz. Setelah mengucap salam dan berbasa-basi, ia mengatakan bahwa ia harus memiliki kesabaran ekstra untuk menghadapi istrinya.
Karena istrinya ini di samping berusia lebih tua dari dirinya, wajahnya yg tak cantik, suka marah2, dia juga tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Yang mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga adalah dirinya.

Karena jika istrinya sampai mengerjakan pekerjaan rumah tangga sedikit saja, maka badannya akan terlihat lelah dan letih sehingga harus dipijitin semalaman, yg itu jauh lebih melelahkan si suami daripada ia sendiri yg harus melakukan pekerjaan itu semua.
Perlu kita tahu, separuh tubuh si istri ini juga mati sebelah, atau lumpuh separoh.

Ketika mendengar itu semua, si ustadz bertanya, “Kenapa tidak kamu cerai saja istri yg seperti itu ?” pertanyaan ini ditujukan kepada lelaki memiliki wajah yg tampan dan tentunya tidak akan sulit untuk menemukan pengganti istrinya.

Jawabnya, “Tidak ustadz. Untuk saat ini, saya masih bisa bersabar menghadapinya.  Karena dialah jawaban dari shalat istikharah yg saya lakukan.
Saya berharap kesabaran ini bisa menghapus dosa2 saya, dan meninggikan derajat saya di akhirat nanti.”
Lanjutnya, “Pun saya juga memikirkan, bagaimana kondisi istri saya nanti jika saya ceraikan; adakah lelaki yg mau mendampingi wanita yg usianya lebih tua dari saya, tidak cantik, pemarah dan lumpuh separoh tubuhnya ??”
Jawaban itu membuat hati si ustadz terharu, dan beliau mengatakan, “Saya hampir menitikkan airmata ketika mendengar jawabannya.
Ternyata masih ada seorang lelaki yg berhati mulia, di zaman serba materialistis seperti saat ini.”  

Keluarga Bervisi Surga..

 
Apa yg menjadikan suami yg  istrinya berusia lebih tua dari dirinya, pemarah, tubuhnya lumpuh separoh, dan wajahnya tidak cantik itu mampu bersabar ? Jawabannya adalah karena si suami menjadikan keluarganya bervisi surga.
Ia jadikan hidup berkeluarga sebagai jalan untuk mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya, menggugurkan dosa-dosanya dan meninggikan derajatnya.

Dan juga, ia jadikan bahtera keluarganya berlabuh di surga nanti, bersama-sama. Ia tidak ingin menjadi keluarga yg berkumpul di dunia saja. Karena visinya adalah surga. Surga adalah tujuan terakhir dari keluarga yg dibinanya.

Sebagaimana kita cemburu dengan kesabaran lelaki akhir zaman di atas, kita juga cemburu dgn keluarga Abu Darda’ yg bervisi surga.

Sebagaimana kita tahu, Ummu Darda’ adalah shahabiyah yg memiliki keindahan budi, kebagusan agama dan kejelitaan rupa, sehingga sepeninggal Abu Darda’, Mu’awiyah datang untuk meminangnya, namun Ummu Darda’ menolak.
Kisah unik ini diabadikan oleh Ibnul Jauzi dalam Shifah Ash-Shafwah (1/641).
Dari Luqman bin Amir, dari Ummu Darda’ bahwa ia pernah berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Abu Darda’ meminangku, lalu Engkau menikahkan aku dengannya di dunia, ya Alah, maka aku meminangnya kepada-Mu, dan meminta-Mu agar Engkau berkenan menikahkan aku dengannya di akhirat.”

Abu Darda’ kemudian menanggapi, “Jika kamu memang benar ingin seperti itu, padahal aku adalah suami pertamamu, maka janganlah kamu menikah lagi sepeninggalku nanti.”

Luqman bin Amir melanjutkan, “Ummu Darda’ memiliki kecantikan.
Maka sepeninggal Abu Darda’, Muawiyah datang ingin melamarnya.
Lalu Ummu Darda’ menjawab, “Tidak, demi Allah, aku tidak akan menikah lagi di dunia, hingga aku menikah dgn Abu Darda’ di surga –insyaALlah.’” 
MasyaAllah! visi keluarga Abu Darda’ dan istrinya adalah surga.

Di antara ciri bahwa sebuah keluarga itu bervisi surga adalah keluarga tersebut menghadirkan visi tersebut dalam kehidupan sehari-hari, dan membandingkan masalah yg dihadapi dgn visi surga yg dimiliki, sehingga masalah yg kecil mudah diselesaikan dan bisa toleran terhadap kekurangan pasangan.

By : Ibnu Abdil Bari


Tidak ada komentar:

Posting Komentar