BCM/14/Sirah
Shahabiyah/CIDIS/151215
🌸‘Atikah
binti Zaid ibn ‘Amru ibn Nufail al Qurasyiah al ‘Adawiyah🌸
Beliau
merupakan seorang wanita mukminah yang cukup terkenal di kalangan sahabiyah
dengan kefasihannya serta kemampuannya bersyair . Sifat-sifat ini telah
diwarisinya dari ayahanda sendiri.
Keluarga
‘Atikah binti Zaid👪
‘Atikah
binti Zaid adalah seorang sahabat wanita mulia yang memiliki sekian banyak
kemuliaan dan keistimewaan. Ia adalah saudara kandung dari Sa’id bin Zaid ra,
salah seorang dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Ibunya adalah Ummu
Kuraiz binti Al Hadhrami. Ayahnya bernama Zaid bin ‘Amr bin Nufail, seorang
yang memiliki kepribadian sangat unik dan hebat di zamannya.
Ketika
semua orang di sekelilingnya terjerumus dalam ritual menyembah berhala, Zaid
bin ‘Amr bin Nufail termasuk salah seorang yang telah bertauhid. Sepanjang
hidupnya, Zaid bin ‘Amr selalu berusaha menggagalkan pembunuhan terhadap anak
perempuan (yang dilakukan dengan cara menguburnya hidup-hidup).
Setiap
kali mengetahui ada yang akan membunuh anak perempuannya, ia berkata,
“Hentikan! Jangan bunuh dia. Biarlah aku yang membesarkannya.” Setelah anak
perempuan itu tumbuh dan cukup dewasa, ia berkata, “Jika engkau mau, aku akan
menyerahkan kembali anakku ini kepadamu. Tapi jika tidak, biarlah aku tetap
mengasuhnya.”
Pernikahan💐💐
Menikah
dengan Abdullah bin Abu Bakar Ash-Shiddiq
‘Atikah
termasuk wanita-wanita yang hijrah. Abdullah bin Abu Bakar Ash-Shiddiq
menikahinya. Ia adalah seorang yang berparas cantik jelita sehingga Abdullah
sangat mencintainya dan membuatnya agak bermalas-malasan untuk terjun di medan
perang. Melihat hal ini, ayah Abdullah, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu
menyuruhnya agar menceraikan istrinya.
Dengan
terpaksa, Abdullah menceraikannya juga. Tapi, ia tidak dapat menutupi kerinduan
dan kecintaannya. Kondisinya yang memburuk membuat Abu Bakar Ash-Shiddiq ra
merasa iba, sehingga mengijinkan putranya rujuk kembali dengan ‘Atikah.
Dalam
perkembangan berikutnya, ketika pasukan muslim mengepung kota Tha’if, Abdullah
terkena anak panah yang membuatnya terluka parah dan akhirnya meninggal di
Madinah. Setelah suaminya gugur sebagai syahid dan masa ‘iddahnya telah
berakhir, Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu melamar dan menikahinya.
‘Atikah
sangat mencintai Abdullah begitu juga sebaliknya sehingga Abdullah memberinya
harta khusus dengan syarat ‘Atikah tidak akan menikah lagi, jika ia meninggal
lebih dulu. Setelah Abdullah meninggal dunia, Umar bin Khaththab radhiallahu
‘anhu mengutus seseorang kepada ‘Atikah untuk menyampaikan pesan, ‘Engkau telah
mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah. Kembalikanlah harta yang
telah engkau terima dari Abdullah kepada keluarganya.’ Atikah menuruti saran
Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu lalu Umar bin
Khaththab radhiallahu ‘anhu pun menikahinya.
Dilamar
Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu👰
Ketika
Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu melamarnya, ‘Atikah menerima dengan
syarat Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu tidak boleh memukulnya, tidak
melarangnya melakukan perkara yang benar, dan tidak menghalanginya jika ingin
shalat di Masjid Nabawi.
‘Atikah
hidup bersama Al-Faruq yang sangat penyayang dan penuh pengertian, sehingga ia
merasakan hari-hari yang sangat bahagia dalam hidupnya. Ia menjadi saksi
karya-karya besar yang telah ditorehkan oleh suaminya dalam menegakkan agama
Allah dan perhatiannya yang sangat tinggi terhadap kepentingan rakyat.
Selama
mendampingi suaminya, ‘Atikah mempelajari sekian banyak hal darinya, hingga
tiba suatu hari ia menyaksikan peristiwa terbunuhnya Umar bin
Khaththab radhiallahu ‘anhu sebagai seorang syahid, sebagaimana pernah
diberitakan Rasulullah ﷺ kepadanya.
Setelah
Umar bin Khaththab Meninggal
Setelah
Umar bi Khaththab radhiallahu ‘anhu terbunuh sebagai syahid, ‘Atikah
dipersunting oleh Hawari (pengawal setia) Rasulullah ﷺ
dan salah seorang dari 10 sahabat yang dijamin akan masuk surga. Ia adalah
Zubair bin Al-‘Awwam radhiallahu ‘anhu, seorang kesatria penunggang kuda yang
sangat berani dan tidak pernah takut mati di medan apapun. Sejarah mencatat, ia
tidak pernah absen dalam setiap perang yang dipimpin Rasulullah ﷺ.
‘Atikah
sangat bahagia dapat hidup bersamanya yang selalu sarat dengan ketaatan kepada
Allah. Ia tahu bahwa suami ketiganya inipun akan mati sebagai seorang syahid,
karena Rasulullah ﷺ pernah memberitahu hal
tersebut kepadanya semasa beliau masih hidup. Zubair bin
Al-‘Awwam radhiallahu ‘anhu terbunuh di lembah as-Siba’ dekat kota Bashrah
oleh Ibnu Jurmuz dalam Perang Jamal.
Di
pernikahan terakhirnya, ia menikah dengan cucu Rasulullah, Husein, putra Ali
bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Ketika itu, usia Atikah menginjak kepala
lima. Husein terpikat dengan budi pekerti Atikah yang luhur. Ketika Husein
terbunuh, Atikah kembali menjanda hingga akhir hayatnya.
‘Atikah
meninggal dunia pada awal masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan ra, yaitu
pada 41 Hijriah. Kesabarannya dan ketegarannya, bersuamikan para syahid,
mendidik muslimah untuk senantiasa sabar dan berdiri di belakang mendukung
suami. Semoga Allah meridhainya dan membuat dirinya ridha, serta menjadikan
surga firdaus sebagai tempat persinggahan terakhir.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Like
http://facebook.com/PermenCIDIS dan follow Instagram
IG:
permencidis >> instagram.com/permencidis l http://t.co/ulj07boRdR
PIN
BBM : 57480AA3
Blog:
permencidis.blogspot.com
Channel CIDIS
Semangat
Belajar CIDIS 😊
CIDIS
Mendunia, Tersebar Karena Cinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar