Rasulullah bersabda,” Setiap anak itu dilahirkan
dalam keadaan fitrah lalu kedua orang tuanyalah yg menjadikannya sebagai
seorang yahudi, nasrani & majusi (penyembah api). (HR. Muslim No.4807)
Sabda Rasul di atas menjelaskan bagaimana
berpengaruhnya orangtua terhadap masa depan anaknya. Kita bisa belajar dari
Sultan Murad yang punya peran besar dalam membentuk Muhammad Al-Fatih yang
kelak menjadi penakluk kota Konstantinopel. Apa saja yang dilakukan Sultan
Murad? Saya merangkumnya dalam tiga hal penting:
1. Bersahabat dengan anak
Sultan Murad pada anaknya sangat bersahabat.
Aktivitas setelah bangun tidur yang dilakukan Sultan adalah mengajak anaknya
solat subuh lalu menikmati fajar sembari bercengkrama dengan suasana yang
menyenangkan. Di setiap mereka berjalan menikmati udara fajar, tangan Sultan
tak lepas dari menggenggam tangan Mehmed (Pelafalan nama Muhammad di lidah
orang-orang Turki).
Sultan tidak sedang memanjakan Mehmed. Sultan hanya
ingin Mehmed merasakan bahwa Ayahnya selalu ada untuknya hingga Mehmed tidak
sungkan untuk bercerita. Mehmed tak perlu mengadu pada yang lain , Ayahnya
sudah lebih dari segalanya. Sehingga jika seandainya Mehmed hidup di masa kini, Mehmed tak akan mengadu
pada facebook. Sangat disayangkan saat ini banyak anak-anak yang lebih dekat
dengan gadget dibandingkan dekat dengan orangtuanya. Kita bisa belajar dari
Sultan Murad bagaimana bersahabat dengan anak-anak kita. Karena jika orangtua
hanya sibuk dengan pekerjaannya, jangan salahkan jika di luar rumah anak-anak
akan mencari pelarian dengan alasan untuk diperhatikan orang lain.
Jadilah mereka berperilaku buruk, kerjanya berantem,
ngomong kotor, bolos sekolah, dan lain-lain. Karenanya luangkanlah waktu Anda
untuk sejenak duduk berdua bersama anak. Tanyakan dengan lembut setiap anak
pulang dari sekolah. Apa saja. Belajarnya, teman-temannya, gurunya, hingga anak
merasa bahwa orangtuanya adalah sahabat terkedekatnya. Kedekatan secara fisik
dengan anak seharusnya menjadi keistimewaan yang patut disyukuri karena
orangtua bisa melihat secara langsung perkembangan anak sehingga bisa mencegah
pengaruh negatif terhadap perkembangan anak
2. Motivasi dengan Ucapan yang baik
Sedih jika mendengar ada orangtua yang membentak
anaknya dengan ucapan-ucapan kasar hingga sang anak tak percaya dengan dirinya
sendiri. Sang anak merasa lemah dan tak punya kemampuan apa-apa. Saat anak
terjatuh, ibunda langsung berucap,”Duh, dasar anak bodoh. Sudah dibilangin
diam-diam aja, gak bisa banget diam.” Saat anak sudah bisa berjalan dan pandai
berbicara biasanya anak ingin melakukan hal-hal yang baru, misalnya manjat
pohon, biasanya orangtua akan melarang dengan alasan takut anaknya jatuh lalu
keluarlah kalimat” Udah, kamu gak akan bisa manjat pohon itu. Jangan
macem-macem nanti kamu jatuh.” Tahukah jika orangtua seperti itu, maka yang
terjadi sang anak akan merasa bahwa dirinya memang tidak bisa, merasa dirinya
memang bodoh. Makanya banyak anak yang tidak mandiri. Apa-apa manggil mama.
Apa-apa tidak bisa sendiri. Belajarlah dari Sultan. Sultan Murad setiap hari
selalu memberikan motivasi dengan kalimat yang baik bahkan mungkin bagi
oranglain adalah gila. Tapi keyakinan dan kepercayaan Sultan pada anaknya
membuat anaknya semakin berani dan percaya diri. Setiap hari Sultan mengajak
anaknya duduk di puncak menara masjid yang tertinggi, lalu Sultan menunjuk
tangannya jauh di sebuah cakrawala. Apa yang disampaikan Sultan? Sultan
menyampaikan motivasi, visi pada seorang anak yang masih sangat kecil.
“Mehmed, lihatlah! Di depan, jauh di depan sana,
disanalah Konstantinopel. Kota itu adalah salah satu pusat dari kekufuran.
Ibukota Romawi Timur yang sangat kuat. Kota itu akan jatuh ke dalam kekuasaan
Islam. Dan engkaulah, Insyaallah, yang akan menaklukkannya kelak.”
Setiap hari dimotivasi dengan kalimat-kalimat yang
baik, membuat Mehmed sangat percaya diri dan membuatnya semangat belajar. Saya
sendiri pernah merasakan sensasi keajaiban motivasi dari Ayahanda. Waktu itu
SMP.Ayah saya begitu percaya kalau saya akan menjadi juara kelas, padahal sejak
kelas 1 SMP saya tidak pernah ranking satu. Tapi Ayah saya tetap yakin hingga
di kelas tiga pembagian report semester pertama Ayah saya berucap,” Masih ada
kesempatan. Kau pasti juara.”
Karena ucapannya itu saya sangat semangat dan
Alhamdulilllah hasil ujian nasional saya paling besar di sekolah saya.
Keajaiban ucapan yang baik. Pantas Allah SWT
dalam alqur’an mengibaratkan ucapan yang
baik itu seperti pohon yang akarnya teguh dan menancap kokoh. Jika akar
pohon sudah bagus, buahnya pun pasti akan bagus.
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah
membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh
dan cabangnya (menjulang) ke langit. pohon itu memberikan buahnya pada setiap
musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk
manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti
pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi;
tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang
beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat;
dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia
kehendaki.” (Qs. Ibrahim: 24-27)
Jadi, pelajaran yang bisa kita ambil adalah,
berikanlah motivasi yang baik pada anak-anak kita. Jangan lagi mengucapkan
kata-kata yang tidak baik hingga membuat anak merasa seperti kata yang
diucapkan itu.
3. Berikan Guru terbaik
Sultan Murad punya mimpi untuk menaklukkan
Konstantinopel dan mimpinya itu diwariskan pada anaknya Muhammad Al-Fatih. Maka
Sultan harus memberikan yang terbaik pada anaknya termasuk dalam pendidikan.
Sejak kecil Mehmed telah diajari oleh seorang Ulama besar yang nasabnya tersambung
sampai pada sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq, Syaikh Aaq Syamsuddin namanya.
Syaikh Aaq Syamsuddin punya peran besar dalam menjadikan Muhammad Al-Fatih
sebagai pemimpin dunia. Ilmu dan nasehat menjadi semacam makanan pokok tak
tergantikan. Hingga jadilah Muhammad
Al-fatih sebagai sebaik-baik pemimpin yang pernah disabdakan Rasul.
Kita bisa belajar dari Sultan bahwa sebagai orangtua
kita harus memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Karena
pendiidikan berpengaruh pada anak. Lingkungan berpengaruh pada anak.
Teman-teman berpengaruh pada anak-anak kita. Bukan mahalnya tapi cara
mendidiknya. Kita tahu tentang post pelecehan seksual terhadap anak yang ada
tak jadi jaminan. di sekolah internasional. Sekolah itu mahal tapi kualitasnya
tak jadi jaminan. Saya sempat heran ada orangtua yang bangga memasukkan anaknya
di sekolah kristen. Di sekolah yang umum saja, pelajaran agama Islamnya
sedikit, bagaimana di sekolah yang sudah bermerk bukan agama Islam. Pendidikan
itu penting, lebih penting lagi pendidikan Islam.
Jadi, tetap penting memilih sekolah. Karena sebagai
orangtua kita tidak bisa mengawasi anak setiap saat. Sekolah punya peran yang
besar. Guru punya peran besar dalam
menghasilkan anak-anak yang hebat.
Kesimpulannya: Anak bisa menjadi sumber kebahagiaan
tapi juga bisa menjadi sumber kekecewaan. Ingin menjadi sumber apa anak kita,
tergantung pilihan dan cara kita mendidik kita hari ini. Kita bisa belajar dari
Sultan Murad yang telah berhasil menjadikan anaknya tertulis dalam tinta emas
sejarah kaum muslimin. Dan pasti, kita pun bisa. Lihatlah saat ini sudah ada
orangtua yang lebih bangga anaknya menjadi hafidz qur’an dibandingkan anaknya
menjadi penyanyi idola. Meski jumlahnya belum banyak, tapi saya percaya semua
orangtua apapun latar belakang, bahkan maaf penjahat sekalipun lebih senang
melihat anaknya berprestasi dan dekat dengan Allah.
*Tulisan ini terinspirasi dari Novel Ghazi karya
Sayf Muhammad Isa dan Felix Siauw
Foto ilustrasi: google
Profil Penulis:
Oksa Putra Yuza lahir di Sumatera Selatan. Sudah
menikah dan punya satu istri yang sedang mengandung satu anak. Silahkan untuk silah ukhuwah ke fb Oksa Putra
Yuza. Kini ia bergabung dengan Komunitas Ummi Menulis.
Sumber :::
www.ummi-online.com/tips-pendidikan-anak-ala-sultan-murad.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar