
oleh: Deasu Lyna Tsuraya (Dakwatuna)
dakwatuna.com – Jangan salahkan para anak..
jika orangtua selalu menganggap diri paling benar. Sementara anak tidak
dibiarkan berbicara menyampaikan isi hati atau uneg-unegnya. Kebanyakan
orangtua, di masa tuanya terlihat seorang diri.. bahkan beberapa para lansia
yang masuk ke panti jompo dengan alasan anak tidak bisa merawat orangtuanya,
bukan sepenuhnya salah dari sang anak dan sementara kita bisa membully sang
anak karena keputusannya memasukkan orantuanya ke panti jompo.
“Lihat itu si fulan, anak durhaka.. masa’
orangtuanya yang udah sepuh gitu dimasukkin ke panti jompo. Emang dasar anak
gak berbakti, gak tau balas budi.”
Perlu digarisbawahi, kata ‘gak tau balas
budi’ bisa kita telaah lebih dalam dulu.
Seorang anak, apabila dari sejak kecilnya
mendapat perhatian, kasih sayang dan kesempatan untuk menyampaikan segala yang
berasal dari hati.. maka ia akan tumbuh besar dengan kemandirian,
kepercayadirian, dan kemampuan bertahan hidup. Namun, anak yang dibesarkan dari
kekurangperhatian orangtuanya, pengabaian terhadap hak-hak anak, tidak ada
kesempatan untuk anak ‘berbicara’ maka anak di masa dewasanya cenderung pendiam,
atau justru malah menjadi pemberontak.
Saya melihat, pada beberapa anak yang usianya
sudah dewasa sementara orangtuanya menjadi lansia, ada gambaran yang seolah
menjadi hukum timbal balik dari apa yang dilakukan orangtuanya dulu saat si
anak masih kecil.
Sebut saja ‘Fulan’. Ia tumbuh besar menjadi
anak yang abai terhadap orangtuanya, bahkan di saat orangtuanya sedang sakit
dan meminta untuk diantar ke rumah sakit ia menjawab “Ahh, bapak-ibu mah udah
pada mandiri, bisa kok naik taksi atau angkutan umum ke rumah sakit. Dari muda
udah biasa sendiri”. Nah kalimat tsb menohok hati kita.. bukan serta merta kita
menyalahkan si anak yang enggan mengantar orangtuanya ke rumah sakit tapi
setelah diflashback, ternyata dahulu sang anak ketika sakit bahkan sampai demam
tinggi, orantuanya pun abai terhadap kondisi sang anak sehingga sang anak
karena demam tinggi itu kini ia harus mengalami penurunan kecerdasan beberapa
persen.
Lalu dalam kesempatan lain, sang anak yang
kurang diperhatikan bahkan tidak pernah diajak bermusyawarah dalam pemutusan
urusan keluarga, dewasanya pun menjadi cuek dengan urusan orangtuanya termasuk
ketika si anak tahu orangtuanya memiliki utang banyak pada orang lain selama
bertahun-tahun dan ketika ditagih oleh si pemberi utang ia menjawab “tagih aja
langsung pak sama ibu saya. saya mah gak ada urusan. Ambil aja barang-barang di
rumah ibu saya kalau emang ibu saya gak bisa bayar utang”. Hal ini bisa
terjadi, karena sejak kecil, anak tidak dilibatkan dalam keputusan yang
berurusan dengan keluarga. Jadi dewasanya pun ia masa bodo dengan apa yang
terjadi pada orangtuanya.
Nah, itu hanya sedikit contoh. Saya yakin
masih ada alasan lain yang membuat anak menitipkan orangtuanya ke panti jompo.
Jadi, tidak sepenuhnya salah sang anak. Yang salah adalah pola didik
orangtuanya semasa anak masih kecil.
Maka, saya pun selaku orangtua berusaha
sekali mendidik anak saya yang baru satu untuk bisa terlibat dalam urusan
kerumahtanggaan, bahkan memberi kesempatan dia untuk mengambil keputusan dari
hal sederhana. Misalnya saja menanyakan “Nak, siang ini kamu mau makan ayam
atau ikan?” Dan biarkan ia menjawab dengan hatinya. Bukan memaksakan keinginan
orangtua yang maunya setiap hari masak ikan terus sehingga anak mau tidak mau
terbiasa hanya mengenal makan ikan.
Begitupula dengan saya selaku anak, yang
masih memiliki kedua orangtua yang masih lengkap. Saya bersyukur, karena sejak
kecil saya banyak diajarkan pelajaran kehidupan mulai dari urusan
kerumahtanggaan, mengarsipkan dokumen keluarga, menata rumah sampai urusan
berniaga saya mendapat teladan dari orangtua terutama ibu saya. Dan sepanjang
usia saya hingga detik ini, saya diajarkan untuk hidup demokratis; siap
mengambil segala keputusan dengan resiko yang harus ditanggung sendiri. Dan
satu hal lagi, saya selalu dilibatkan ketika ada musyawarah di keluarga terkait
masalah kecil atau besar. Sehingga keberadaan saya dianggap ada.
Oleh karenanya, ketika orangtua saya semakin
lanjut usia. Sebisa mungkin saya terus menengok dan mengunjungi mereka setiap
pekan atau sebulan minimal 2 kali. Saya tak ingin melewatkan kesempatan
bercengkerama dengan mereka dan mendengar cerita-cerita mereka selama saya
tidak ada di dekat mereka.
Saya berharap, Allah memberikan saya
kemampuan dan kesempatan untuk bisa merawat kedua orangtua saya yang kian
lanjut usianya nanti. Bukan dengan menitipkannya di panti jompo, karena
kebaikan mereka yang begitu luar biasa di masa saya kecil.
Dan harapan itu pun saya titipkan pada Allah,
agar jikalau umur saya panjang, saya berharap anak-anak nanti bisa merawat saya
sepenuh hati, bukan mencampakkan saya ke panti jompo.
Satu hal lagi, di dunia ini berlaku hukum
sebab akibat atau hukum timbal baik, di mana ketika kebaikan yang kita tanam
maka kebaikan pula yang akan kita tuai. Perhatian dan curahan kasih sayang
orangtua pada anak maka akan dibalas pula oleh sang anak dengan pemberian kasih
sayang dan perhatian pada orangtuanya. Pun sebaliknya, bersikap cuek dan abai
terhadap anak di masa kecilnya, akan terbalas pula oleh sikap anak yang cuek
dan abai terhadap orangtua ketika dewasa nanti. (deasy/dakwatuna)
Redaktur: Samin B
Sumber:
http://www.dakwatuna.com/2015/09/17/74659/anak-yang-abai-terhadap-orangtuanya/#ixzz3mKnda2AH
Follow us: @dakwatuna on Twitter |
dakwatunacom on Facebook
🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬
🐤Twitter : @PermenCIDIS
📷Instagram : @permencidis
📱Contact person:
Founder Cidis : 081221885677
BCmuslimah : 082217062886
Semangat belajar CIDIS 😘
Tidak ada komentar:
Posting Komentar