Pages

Senin, 28 Desember 2015

Membangun Keluarga Surgawi Part 6

Ustadz Lutfie #OLID: Membangun Keluarga Surgawi
Part 6

Putusin Pacarmu Sekarang !


Pacaran adalah haram (terlarang) menurut Islam, sehingga putusin saja pacarmu sekarang dengan niat karena Allah ta’ala. Hadirkan pertaubatan dengan kesungguhan, sudahi saja jeratan-jeratan syaitan ini. Jangan pacaran. Menikahlah dengan ridha Allah ta’ala.

Jika sulit bagimu untuk memutuskan pacarmu dengan bertemu langsung. Tak apalah tatkala engkau menuliskan dengan pena. Engkau sampaikan padanya, bahwa hentikan dan sudahi ikatan haram ini, pacaran.

Jika sulit menulis kata-kata untuk dirinya, ada seuntai contoh risalah dari Ustadz Salim A. Fillah dalam buku beliau, Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan. Silahkan, jika bermanfaat untuk menyudahi hubungan kelam pacaran. Dan menuju cinta sejati, kepada Allah ta’ala semata. Contoh ini, dari perempuan ke laki-laki. Namun berlaku sebaliknya, silahkan disesuaikan.

Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh,

            Ba’da tahmid dan shalawat . . .

            Syukur pada Allah yang masih mengaruniakan nafas padaku dan padamu untuk segera memperbarui taubat.

            Akhi, rasanya aku telah menemukan Kekasih yang jauh lebih baik darimu. Yang Tak pernah Mengantuk dan Tak Pernah Tidur. Yang siap terus-menerus Memperhatikan dan Mengurusku. Yang selalu bersedia berduaan di sepertiga terkahir malam. Yang siap Memberi apapun yang kupinta. Ia yang Bertahta, Berkuasa, dan Memiliki Segalanya.

            Maaf akhi, tapi menurutku kau bukan apa-apa dibanding Dia. Kau sangat lemah, kecil, dan kerdil di depanNya. Ia berbuat apa saja sekehendakNya kepadamu. Dan, akhi, aku khawatir apa yang telah kita lakukan selama ini membuatNya cemburu. Aku takut, hubungan kita selama ini membuatNya murka. Padahal Ia, Maha Kuat, Maha Gagah, Maha Perkasa, Maha Keras SiksaNya.

            Akhi, belum terlambat untuk bertaubat. Apa yang telah kita lakukan selama ini pasti akan ditanyakan olehNya. Ia bisa marah, akhi. Marah tentang saling pandang yang pernah kita lakukan, marah karena setitik sentuhan kulit kita yang belum halal itu, marah karena suatu ketika dengan terpaksa aku harus membonceng motormu, marah karena pernah ketetapanNya kuadukan padamu atau tentang lamunanku yang selalu membayangkan wajahmu. Ia bisa Marah. Tapi sekali lagi semua belum terlambat. Kalau kita memutuskan hubungan ini sekarang, semoga Ia mau Memaafkan dan Mengampuni. Akhi, Ia Maha Pengampun, Maha Pemberi Maaf, Maha Menerima Taubat, Maha Penyayang, Maha Bijaksana.

            Akhi, jangan marah ya. Aku sudah memutuskan untuk menyerahkan cintaku padaNya, tidak pada selainNya. Tapi tak Cuma aku, akhi. Kau pun bisa menjadi kekasihNya, kekasih yang amat dicintai dan dimuliakan. Caranya satu, kita harus jauhi semua larangan-laranganNya termasuk dalam soal hubungan kita ini. Insyaallah, Dia punya rencana yang indah untuk masa depan kita masing-masing. Kalau engkau selalu berusaha menjaga diri dati hal-hal yang dibenciNya, kau pasti akan dipertemukan dengan seorang wanita shalihah. Ya, wanita shalihah yang pasti jauh lebih baik dari diriku saat ini. Ia yang akan membantumu menajaga agamamu, agar hidupmu senantiasa dalam kerangka mencari ridha Allah dalam ikatan pernikahan yang suci. Inilah doaku untukmu, semoga kaupun mendoakanku, akhi.

            Akhi, aku akan segera menghapus namamu dari memori masa lalu yang salah arah ini. Tapi, aku akan tetap menghormatimu sebagai saudara di jalan Allah. Ya, saudara di jalan Allah, akhi. Itulah ikatan terbaik. Tak hanya antara kita berdua, tapi seluruh orang mukmin di dunia. Tak mustahil itulah yang akan mempertemukan kita dengan Rasulullah di telaganya, lalu beliaupun memberi minum kita dengan air yang lebih manis dari madu, lebih lembut dari susu, dan lebih sejuk dari krim beku.

            Maaf, akhi. Tak baik rasanya aku berlama-lama menulis surat ini. Aku takut ini merusak hati. Goresan pena terakhirku di surat ini adalah doa keselematan dunia akhirat sekaligus tanda akhir dari hubungan haram kita, Insyaallah.

            Wassalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Akhukum fillah,
al Faqir Abu Sulthan

@lutfisarif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar